SEJARAH PERCETAKAN DI INDONESIA PART 2

Halo guys! Welcome back to Bintang Timur Sempurna.. Gimana weekend nya? Gently reminder untuk tetap mematuhi protokol kesehatan ya dimana pun kalian berada. Oke di part 2 kali ini Minbi akan melanjuti part 1 dari sejarah percetakan di Indonesia.

 

VOC menganggap bahwa percetakan swasta tersebut berbahaya dan pada akhirnya ditutup oleh VOC pada tahun 1745. Sekitar abad ke-18 dimana VOC mulai akan dibubarkan, usaha percetakan swasta semakin berkembang dan kemudian menjadi usaha penerbitan. Percetakan swasta tersebut kemudian menerbitkan karya berupa puisi, almanak, surat kabar dan kamus. Namun disayangkan bahwa penerbitan surat kabar tersebut harus ditutup kembali guna menjaga keamanan dan ketertiban di masa lalu.

 

Siapa yang menjadi pelopor perkembangan sejarah percetakan di Indonesia ini sebenarnya masih menimbulkan tanda tanya, terutama pada kalangan pribumi. Padahal penerbitan surat kabar masyarakat pribumi yang berbahasa melayu dikelola secara gabungan oleh pribumi dan orang Belanda.

 

Namun sejarah percetakan di Indonesia menganggap bahwa R.M Tirtoadisoerjo sebagai pelopor sekaligus perintis usaha percetakan pada kalangan pribumi. Nama R.M Tirtoadisoerjo sebelumnya memiliki nama R.M Djokomono yang mendirikan toko buku, alat tulis, serta toko alat tulis Jawa. Pada tahun 1904, R.M Tirtoadisoerjo berhasil menerbitkan majalah lalu diikuti dengan penerbitan surat kabar di Bandung. Surat kabar tersebut pernah dicetak sebanyak 2000 eksemplar dan termasuk dalam jumlah yang besar saat itu.

 

Di tahun 1976 terdapat sebanyak 385 mesin cetak Offset didatangkan ke Indonesia. Perkembangan pesat dimulai pada tahun 1992-1997 dimana teknologi Computer to Film (CTF) mulai masuk ke Indonesia. Hal tersebut dimulai dari percetakan besar hingga sampai ke percetakan menengah dan kecil. Lalu pada tahun 2000 pemakaian teknologi CTF mulai teralihkan dikarenakan munculnya dan berkembangnya teknologi Computer To Plate (CTP) atau yang terkenal dengan merk Heidelberg, Screen, Scritex, Basys Print dan AGFA.

 

Perkembangan percetakan di Indonesia saat ini tumbuh pesat dengan CTP dengan master maupun tanpa master seperti salah satu yang terkenal adalah HP Indigo, Fuji Jet Press 750s. Lalu pada tahun 2007 keatas muncul berbagai peluang yang menjanjikan seperti Digital Printing, 3D Printing, dan Water Transfer Printing.

 

Nah kira-kira seperti itu ya guys sejarah percetakan di Indonesia dari awal sampai saat ini. Walaupun belum dapat diketahui secara pastik dalam bentuk data yang valid, namun setidaknya kita mengetahui perjalanan perkembangan dunia percetakan di Indonesia. Oke sahabat-sahabat Bintang jangan lupa untuk jaga kesehatan dan tetap dalam protokol kesehatan. See ya!

Share Links